Meniti Jalan Di Atas Bimbingan Salaful Ummah

Mudahkanlah…
Dan jangan menyusahkan…

Berilah kabar gembira
Dan jangan membuat orang lari

Karena Islam begitu menyenangkan

Demikianlah nasehat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallaam pada ummatnya agar memudahkan dan jangan mempersulit apalagi membuat manusia lari dari Islam,karena tabi’at Islam itu sendiri mudah dan tidak sulit ,bahkan menyenangkan bukan menakutkan dengan syarat tidak memudah-mudahkan dengan akal pikiran dan perasaan.Semua disandarkan pada nash yang shahih berdasar Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi terbaik ummat ini yaitu para salafush shaih.

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَسِرُّوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا ( رواه البخارِى ومسلم)

Dari Anas,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ,beliau bersabda:”Mudahkanlah dan janganlah menyusahkan,dan berilah kabaar grmbira dan jangan membuat orang lari (dari agama ini).” Riwayat Bukhari (no.69 dan ini lafazhnya) dan Muslim (no.1734).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ،فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا،وَاسْتَعِيْنُوْا بِلْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْ ٍٕ مِنَ الدُّلْجَةِ. (رواه البخارى)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ,beliau bersabda:”Sungguh agama (Islam) ini mudah.Tidaklah seorangpun yang memberat-beratkannya melainkan agama ini mengalahkannya.Karena itu berlaku sedanglah kamu dan mendekatlah,serta mintalah bantuan di waktu pagi dan petang dan sedikit di akhir waktu malam.”[Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no.39,5673,6463,7235)].

Siapa yang memberat-beratkan agama Islam pasti akan dikalahkan karena begitu banyak jalan kebaikan dalam Islam yang telah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,yang pasti dia tidak sanggup mengamalkan semuanya. Oleh karena itu hendaklah berlaku sedang,yaitu tengah-tengah dalam beramal,dengan tidak berlebihan dan mengurangi hak atau melalaikannya,dengan syarat amalnya benar sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apabila tidak sanggup mengerjakan semua amal yang disunnahkan oleh Rasul atau tidak sanggup mengambil yang sempurna,maka kerjakanlah saja apa yang mampu dari amal shalih untuk mendekati kesempurnaan.Kemudian kerjakanlah amal taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada waktu bersemangat,sebab saat itu hati-hati kita dapat merasakan kelezatan beribadah kepada Rabbul ‘alamin sehingga tidak menjemukan dan sampailah kita di tempat tujuan.

Seorang musafir yang cerdik pasti memilih waktu-waktu yang tepat untuk berjalan dan beristirahat.Begitu juga orang yang beribadah,hendaklah memilih waktu dan saat yang tepat yang sekiranya tidak membuat dia jemu dan malas hingga akhirnya meninggalkan atau mengurangi ibadah.

Oleh karena itu berlaku sedanglah dan mendekatlah sedikit demi sedikit untuk mencapai kesempurnaan,juga kerjakanlah ibadah dengan penuh semangat dan saat hati ini bisa merasakan kelezatan dalam beribadah.Karena ibadah ini bukanlah suatu beban yang membebani manusia,tetapi yakini bahwa ia merupakan kesenangan dan kegembiraan hakiki yang kelezatannya benar-benar dapat dirasakan.

Semoga bermanfaat.

***

Ummu Azhar,Bandung,18 Jumadal Akhiroh 1436 H / 8 April 2015 M

Tulisan ini merujuk pada catatan saat kajian “Islam itu Mudah” pada tahun 2011 di Masjid Besar Ujung Berung ,kota Bandung,yang disampaikan oleh Ustadz Abdul Hakim Abdat hafidzahullah.

Mari kita renungkan hadits berikut:

Dari ‘Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

جاء رجل إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله كم نعفو عن الخادم؟ فصمت، ثم أعاد عليه الكلام فصمت، فلما كان في الثالثة قال: اعفوا عنه في كل يوم سبعين مرة

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, berapa kali kita memaafkan pembantu?’ Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang pertanyaannya. Dan Nabi pun masih diam. Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali.”  (HR.Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.488)

Hidup itu indah dengan hati yang bersih dari duri, yang selalu memaafkan kesalahan istri, namun bila ternyata ada istri yang setelah 70 kali dimaafkan dalam setiap harinya dengan dibalut arahan yang penuh kelembutan, tetap berbuat kesalahan yang kadang kala tidak bisa ditoleransi lagi, maka Allah pun telah memberikan arahan dan tahapan-tahapan yang harus ditempuh dalam memberikan terapi bagi istri yang seperti ini. Sebagaimana firman-Nya:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz-nya (ketidakpatuhannya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka ,dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa’: 34)

Jadi…

Tahapan pertama:Nasehat yang santun penuh hikmah, tanpa harus mengangkat suara sehingga tetangga mendengarnya, dan tidak pula dilakukan di depan orang lain, tapi carilah waktu dan tempat yang tepat. Namun jika nasehat yang berbalut kasih-sayang belum membuahkan hasil, maka langkah berikutnya…

Tahapan kedua:Hajr yakni tidak mengajaknya berbicara dan tidak berhubungan intim dengannya, dan bila langkah ini juga tidak mujarab, bahkan istri semakin menjadi-jadi, maka…

Tahapan ketiga:Diperbolehkan bagi para suami untuk memukulnya dengan pukulan yang berdasarkan kebaikan, bukan memukul untuk melampiaskan emosi kepadanya. Pukulan yang diperbolehkan adalah yang tidak meninggalkan bekas, dan tidak boleh pula memukul wajah. Ini dilakukan kalau kiranya akan memberikan manfaat, tapi kalau tidak maka tidak perlu.

Pada hakikatnya suami yang mencintai istrinya, yang telah memberikan hak-haknya niscaya tatkala pada suatu hari ia mendiamkan istrinya, sang istri akan segera merasakan adanya perubahan signifikan pada diri suaminya. Namun bila ternyata suami memang jarang bercakap-cakap dengan istri maka istri tidak akan tanggap dan sadar bahwa ia sedang dalam fase hajr.

Dan suami yang memang jarang menggauli istrinya, tatkala ia memberikan pelajaran kepadaanya dengan tidak menjima’nya maka tatkala itu istri akan biasa-biasa saja.

Sebagaimana suami yang baik ketika dia memukul istrinya di telapak tangannya dengan pena yang tidak menyakitkan, pada hakikatnya yang terasa sakit buat istri bukanlah tangannya, tapi dalam hatinya.Dan ketika itu biasanya ia akan segera tanggap dan sadar bahwa ada yang tidak disukai oleh suami darinya. Sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘aanha tanggap dengan adanya perubahan di mimik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun bila memang sudah biasa terjadi percekcokan di dalam rumah bahkan kerap kali piring berterbangan plus baku hantam di rumah, maka memukul istri pada waktu itu tidak akan memberikan perubahan pada dirinya.

Jadi yang harus dirubah dari awal adalah dirimu wahai suami; jadilah kau yang baik dan bijak terhadap istrimu, niscaya ketika kau membimbing istrimu diapun akan tanggap terhadapmu.

Sebagian orang bijak berkata, ”Seusngguhnya hati itu seperti kertas, yang bila diremas tentu tidak akan kembali rata seperti semula.” Memang perkataan ini benar, maka buanglah kertas yang telah diremas itu dan ambillah lembaran baru untuk memuai kehidupan yang baru. Dan bila nanti di kemudian hari kertas itu diremas lagi, buanglah dan ambillah yang baru lagi.

Lagi, lagi dan lagi…

Insyaa Allah kau akan bahagia.

***

Ummu Azhar,Bandung,14 Jumadal Akhiroh,1436 H / 4 April 2015

Dikutip dari buku “Andai Aku Tidak Menikah Dengannya”
Karya DR.Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basamalah, MA
Penerbit: Rumah Ilmu, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat

Shaum Ramadhan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala,akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ’.” [HR.Al-Bukhari dan Muslim]

Shaum adalah ibadah yang agung di sisi Allah Ta’ala ,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِاىَٔةِ ضِعْفٍ قَالَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّالصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّاىِٔمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَا ِٕ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيْهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Semua amal anak Adam dilipatgandakan ; satu kebaikan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’Kecuali shaum karena ia untuk-Ku,dan Aku akan membalasnya ;ia meninggalakan syahwat dan makanannya karena-Ku’.Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan ,yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa,dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah Ta’ala dari minyak kesturi.”[HR.Al-Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafazh Muslim]
Pada hari kiamat,shaum akan memberikan syafa’at kepada pelakunya.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ والشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
“Shiyam dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada hamba pada hari kiamat.Shiyam berkata,’Ya Rabb,aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwatnya di waktu siang maka beri aku syafa’at untuknya’. Al Qur’an berkata,’Ya Rabb,aku telah mencegahnya tidur di waktu malam,beri aku syafa’at untuknya’.”[HR.Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih targhib no.984]

Bahkan orang yang berpuasa akan disediakan pintu khusus ke surga,pintu itu bernama Rayyan,sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّاىِٔمُوْنَ يَوْمَ القِيَامَةِلاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّاىِٔمُوْنَ فَيَدْ خُلُوْنَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنهُ أَحَد

“Sesungguhnya surga mempunyai pintu yang bernama Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat,tidak selain mereka yang memasukinya.Akan dikatakan,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun masuk dari pintu tersebut.Apabila semuanya telah masuk ,akan dikunci dan tidak ada yang memasukinya seorang pun.”[HR.Al-Bukhari dan Muslim]

Namun,berapa banyak orang yang berpuasa ,tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar,sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar,haus dan dahaga saja.”[HR.Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata,”Hsan Shahih.”]

Hal tersebut terjadi karena ia tidak berpuasa dari apa yang Allah Ta’ala haramkan,ia seakan menganggap bahwa puasa itu hanya menahan diri dari pembatal-pembatal puasa saja.Di dalam hadits disebutkan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya,maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya.”[HR.Al-Bukhari no.1804]
Selain itu,hakikat shaum adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita.Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالَّرَفَث
“Bukanlah shaum itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman,tetapi shaum adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.”[HR.Ibnu Khuzaimah no.1996 dan tahqiq Syaikh Al-A’zami berkata,”Shahih.”]
Syarat dan Rukun Puasa
Adapun rukun puasa ada dua:pertama adalah niat dan kedua adalah menahan diri dari semua perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan sengaja,jima’ di siang hari,haidh dan nifas,muntah dengan sengaja,dan murtad dari agama Islam.Kaidah yang hendaknya kita ketahui adalah bahwa tidak boleh kita mengklaim bahwa sesuatu itu membatalkan puasa,kecuali dengan dalil syari’at yang shahih.Barangsiapa yang melakukan hal-hala yang membatalkan puasa dengan sengaja maka tidak bermanfaat baginya qadha.Kewajiban baginya adalah bertaubat kepada Allah Ta’ala.Akan tetapi bila ia melakukannya karena udzur maka hendaklah ia mengqadha puasanya.

Adapun syarat-syarat wajibnya puasa ada enam,yaitu muslim,balihg,berakal,mempunyai kemampuan untuk berpuasa ,muqim tidak safar,dan tidak haidh juga tidak nifas.

***

Ummu Azhar,Bandung,13 Jumadal Akhiroh 1436 H / 3 April 2015 M

Disalin dari buku Amalan-amalan di Buka Ramadhan,karya Abu Yahya Badrusalam,Lc.
Penerbit:Naashirussunnah

Marhaban Yaa Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah,bulan yang diturunkan padanya Al Qur’an,bulan yang terdapat padanya malam yang lebih baik dari seribu bulan,dan setiap malamnya Allah subhanhu wa Ta’ala memerdekaan hamba-hamba-Nya dari api neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ
أَبْوَابُ الجِنَّانِ فَلَمْ يُغْلَقُ مِنْهَا بَابٌ ،وَنَادَى مُنَادٍ:يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلّٰهِ عُتَقَا ٕ ُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Apabila telah masuk malam pertama dari bulan Ramadhan,setan-setan yaitu jin-jin yang durhaka akan diikat,pintu-pintu neraka akan dikunci dan tidak satupun pintu yang terbuka.Pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak satupun pintu yang terkunci.Dan akan ada yang menyeru,’Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah,dan wahai orang yang menginginkan keburukan tahanlah.’Allah ‘Azza wa Jalla memerdekaan hamba-hamba-Nya dan itu terjadi pada setiap malam.”[HR.at-tirmidzi,Ibnu Majah dan lainnya]

Kewajiban setiap muslim adalah berlomba-lomba mencari keberkahan bulan ini dengan banyak beramal shalih,agar kita termasuk orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari api neraka.Sungguh sangat merugi orang yang keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak mendapat ampunan Allah Ta’ala.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَقِىَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا رَقِىَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِيْنَ ثُمَّ رَقِىَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ آمِيْنَ ثُمَّ رَقِىَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِيْنَ فَقَالُوا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ لَمَّا رَقِيْتُ الدَّرَجَةَ الأُولَى جَا ٕ َ نِي جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْلَهُ فَقُلْتُ آمِيْنَ ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِيْنَ ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki mimbar,ketika beliau menaiki tangga pertama beliau bersabda,”Aamiin”.Ketika menaiki tangga kedua beliau berucap,”Aamiin”.Ketika menaiki tangga yang ketiga beliau beliau berucap,”Aamiin”. Para sahabat berkata,”Wahai Rasulullah kami mendengar engkau mengucapkan Aamiin tiga kali.”Beliau bersabda,”Ketika aku menaiki tangga yang pertama,Jibril ‘Alaihissalaam datang kepadaku dan berkata,”Celaka hamba yang mendapati bulan Ramadhan,setealh lepas darinya ternyata ia tidak diampuni dosa-dosanya.”Aku pun mengucapkan Aamiin.Kemudian ia berkata,”Celaka hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya,namun tidak memasukkannya ke dalam surga.” Aku pun mengucapkan Aamiin.Kemudian ia berkata,”Celaka hamba yang disebutkan namamu di sisinya,tetapi ia tidak bershalawat untukmu.” Aku pun mengucapkan Aamiin.”[HR.Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no.664 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah]

Setiap kita pasti tidak rela apabila terkena doa tersebut,maka tiada jalan kecuali bersungguh-sungguh menjalani Ramadhan dengan banyak beramal shalih.

Diketik ulang oleh Ummu Azhar Faqih

Bandung,12 Jumadal Akhiroh 1436 H / 3 April 2015 M

Sumber :Amalan-Amalan di Bulan Ramadhan
Penulis :Abu Yahya Badrusalam,Lc.
Penerbit:Naashirussunnah

Pernikahan bukanlah sekedar ikatan di atas buku hijau dengan stempei KUA.

Bukan pula hanya ucapan ijab dan qobul antara wali dan mempelai pria plus mahar dan dua saksi.

Namun,pernikahan adalah mahkota kehormatan yang terjalin di atas perjanjian yang sangat kuat.

Allah menyebutnya dengan kalimat “Miitsaaqan Ghalidhan”.

Penamaan seperti ini telah Allah sebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak tiga kali perjanjian yang berbeda,namun semuanya adalah perjanjian-perjanjian yang agung dan luhur.

Yang pertama:Perjanjian Allah dengan para utusannya agar mereka menyeru ummat manusia kepada tauhid.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi dan dari kamu (sendiri),dari Nuh,Ibrahim,Musa dan ‘Isa putera Maryam,dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.”[ QS.Al-ahzaab :7]

Yang kedua: Perjanjian Allah dengan Bani Israil agar mereka patuh kepada Allah dan menjalankan hukum-hukum Taurat.Allah berfirman:

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيْثَاقِهِمْ وَقُلنَا لَهُمْ ادْ خُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيْثَاقًاغَلِيْظًا

“Dan telah kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka.Dan Kami perintahkan kepada mereka :”Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”,dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka :”Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu “,dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.” [QS.An-Nisaa’ :154]

Yang ketiga:Perjanjian yang daimbil oleh para perempuan dari suami-suami mereka,Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيْثَاقًاغَلِيْظًا

“Dan istri-istri kalian telah mengambil dari kalian suatu perjanjian yang kuat.”{QS.An-Nisaa’:21]

Miitsaaqan Ghalidhan ,maknanya ,mereka telah mengambil perjanjian yang berat yang ditekankan dengan penekanan tambahan,dengannya sulit melanggarnya,seperti sebuah baju yang tebal yang sulit merobeknya.”[Mahasin Ta’wil 3/57]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ فِي النِّسَا ِٕ ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللّٰهِ ،وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللّٰهِ

“Bertaqwalah kepada Allah dalam perkara perempuan-perempuan itu,sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah,dan halal bagi kalian kemaluan mereka dengan kalimat Allah.”[HR.Muslim no 1218]

Saudaraku…coba renungkan betapa agungnya pernikahan.
Bagaimana mungkin tidak disebut berpindahnya kepemilikan sebagai perjanjian yang teguh dan kuat,ketika urusannya adalah berpindahnya surga seseorang kepada orang ain yang tidak pernah punya andil dalam merawat dan membesarkannya.

Orangtuanya telah menyerahkan putrinya kepadamu sepenuhnya.

Padahal,kau tidak pernah turut andil daam melahirkannya ke dunia ini.

Ibunya selama 9 bulan dengan penuh lemah di atas kelemahannya mengandung istrimu itu.

Kau tidak pernah turut campur dalam memberikan perhatian dan kasih sayang.

Kau juga tidak pernah merasakan suka duka dalam membesarkan perempuan yang sekarang menjadi istrimu.

Tatkala dia sakit,tatkala dia menangis,tatkala dia sedih,tatkala dia berduka,kau tak pernah hadir pada hari-hari itu.

Kemudian kau datang untuk meminangnya,momen itu adalah peristiwa yang cukup berat bagi orang tuanya.

Anak yang dibesarkan dengan cinta daan kasih sayang akan dilepas dari dekapan mereka,dikeluarkan dari istana mereka.

Diserahkan kepadamu,yang merekapun tak dapat memastikan,bagaimana kelak hidupnya bersamamu.

Namun karena perintah Illahi,dengan segala resiko yang harus diterima,kaupun dinikahkan.

Dengan satu harapan,sebagai suami kau dapat menggantikan posisi keduanya,merawat,menjaga,mencitai dan membuatnya bahagia.

Pada hakekatnya kau telah mengambil perjanjian yang akan kau pertanggungjawabkan di dunia sebelum di akhirat.

Bukan sekedar kertas ijau biasa yang dapat kau gandakan di percetakan,dan bisa hilang,terbakar atau kau bunag kapan kau bosan dengannya.

Miitsaaqan Ghalidhan…

****
Dikutip dari buku “Andai Aku Tidak Menikah Dengannya” Karya DR.Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basamalah,MA

Penerbit :Rumah Ilmu,Cikarang,Bekasi,Jawa Barat

****

Ummu Azhar,Bandung,11 Jumadal Akhiroh 1436 H / 1 April 2015 M

Mengingkari takdir,memiliki beberapa tingkatan:
1.Ada pengingkaran yang dikategorikan sebagai kekufuran,sehingga menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (murtad).Yaitu bila ia mengingkari ilmu Allah yang mendahului segala sesuatu,atau mengingkari penulisan takdir di lauhil mahfuzh.
2.Pengingkaran yang dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah,yang bertentangan dengan kesempurnaan tauhid. Yaitu bila ia mengingkari keumuman kehendak Allah,atau keumuman ciptaan Allah.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

وَالَّذِى نَفْسِ ابْنُ عُمَرَ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ لأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَاقَبِلَ اللّٰهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Demi Dzat yang jiwa Ibnu Umar berada di TanganNya,andaikata salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud,kemudian ia menginfakkannya di jalan Allah,niscaya Allah tidak akan menerimanya,hingga ia beriman dengan takdir.” [HR.Muslim]

Maksudnya :Allah tidak berkenan menerima amal shalih,kecuali dari orang yang beriman (mukmin),sedangkan orang yang mengingkari takdir dan enggan beriman dengannya,maka ia bukanlah seorang yang beriman.Dengan demikian tidak akan diterima darinya suatu amalan,walaupun ia berinfak sebesar gunung Uhud.

Lalu Ibnu Umar berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaii wasallam:

اَلْإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَلَاىِٔكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah,MalaikatNya,Kitab-KitabNya,Rasul-RasulNya,dan Hari Akhir,dan engkau beriman kepada takdir,takdir baik dan takdir buruk.” [HR.Muslim]

Maksud takdir baik dan takdir buruk disini adalah baik menurut anggapan manusia dan buruk menurut anggapan manusia pula.Adapun dari sisi perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla,maka seluruh perbuatan Allah Ta’ala adalah baik,dikarenakan perbuatanNya sesuai dengan kebijaksanaanNya (hikmahNya).

Dan diriwayatkan dari sahabat Ubadah bin As-Shamit, ia bekata kepada anaknya:

يَابُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ الإِيْمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِىَٔكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ أَوَّلَ مَاخَلَقَ اللّٰهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اُكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَىْ ٍٕ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ يَابُنَىَّ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّى

“Wahai anakku!,Sesungguhnya engkau tidak dapat merasakan manisnya iman, hingga engkau percaya bahwa sesuatu yang (ditakdirkan) menimpamu, tidak mungkin meleset darimu. Sebaliknya, sesuatu yang tidak (ditakdirkan) menimpamu tidak mungkin menimpamu.Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya (saat) pertama kali Allah menciptakan Al Qalam(Pena),Ia berfirman kepadanya,”Tulislah”.Mendengar perintah ini Al Qalam berkata:”Wahai Rabb ku,apa yang harus aku tulis? Allah berfirman:”Tulislah takdir segala sesuatu hingga kiamat tiba.”(Lalu sahabat Ubadah bin As Shamit melanjutkan petuahnya dengan berkata): Wahai anakku! Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa mati di atas keyakinan menyelisihi keyakinan ini,maka ia tidak termasuk dari golonganku.”

Maksud dari :“Wahai anakku!,Sesungguhnya engkau tidak dapat merasakan manisnya iman, hingga engkau percaya bahwa sesuatu yang (ditakdirkan) menimpamu, tidak mungkin meleset darimu. Sebaliknya, sesuatu yang tidak (ditakdirkan) menimpamu tidak mungkin menimpamu.”Dikarenakan penentuan segala urusan telah selesai.

Dan termasuk beriman kepada takdir, meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan manusia memiliki kemampuan memilih,dan sehingga mereka tidak dipaksa, karena itu berbagai kewajiban beragama hanya dibebankan kepada orang yang mempunyai kemampuan untuk memilih.

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam bersabda, “Sesungguhnya pertama kali Allah menciptakan Al Qalam (pena), Ia berfirman kepadanya. “Tulislah” .Mendengar perintah itu,Al Qalam berkata:Wahai Rabb-ku,apa yang aku tulis? Allah berfirman. “Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat tiba. “ Pada hadits ini, terdapat dalil tentang tahapan penulisan takdir.

Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. “Sesungguhnya Allah pertama kali menciptakan Al Qlalam ( pena)” -menurut pendapat yang benar -adalah bahwa kata
– أَوَّل – bermaknakan pertama kali (tatkala/disaat) .Adapun makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah Al-‘Arsy.

Pada riwayat Imam Ahmad dikatakan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اَلْقَلَمُ ثُمَّ قَالَ اُكْتُبْ فَجَرَى فِى تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَاىِٔنٌ إِلَى يَوْمِ القِيَا مَةِ

“Sesungguhnya tatkala pertama kali Allah Tabaraka wa Ta’ala menciptakan Al Qalam, Ia berfirman kepadanya, “Tulislah” mendengar perintah itu, Al Qalam segera menulis – pada itu saat juga – segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat.”

Dan pada riwayat Ibnu Wahhb:

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ أَحْرَقَهُ اللّٰه بِالنَّارِ

“Maka barangsiapa tidak beriman kepada takdir, takdir baik maupun takdir buruk, Allah akan membakarnya dengan api neraka”

Dalam kitab al Musnad dan As Sunan dari Ibnu Dailami,ia mengisahkan:

“Aku pernah menjumpai Ubai bin Ka’ab,lalu aku berkata kepadanya:Aku merasakan sesuatu dalam diriku tentang iman kepada takdir,oleh karenanya bacakanlah suatu hadits kepadaku,semoga Allah menghilangkan perasaan tersebut dari hatiku.Mendengar perkataannya beliau berkata:”Andai engkau menginfakkan emas sebesar gunung uhud,niscaya Allah tidak akan menerimanya darimu,hingga engkau beriman kepada takdir,engkau beriman bahwa sesuatu yang(tidak ditakdirkan) menimpamu,tidak mungkin dapat menimpamu.Bila engkau mati,di atas keyakinan yang menyelisishi keyakinan ini,niscaya engkau menjadi penghuni neraka.”Ibnu Dailami meanjutkan kisahnya dengan berkata:”Selanjutkan aku menemui Abdullah bin Mas’ud,Huzaifah bin al Yaman,dan Zaid bin Tsabit,dan semuanya menyampaikan kepaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”[Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam kitab shahihnya Al Mustadrak].

Faedah :
1.Penjelasan tentang kewajiban beriman kepada takdir.
2Penjelasan metode beriman kepada takdir.
3.Amalan orang yang tidak beriman kepada takdir akan berguguran.
4.Pengabaran,bahwa seorang manusia tidak dapat merasakan manisnya iman hingga ia beriman kepad takdir.
5.Kisah kejadian terjadi pada awal penciptaan Al Qalam.
6.Pada saat tersebut(saat diperintah),Al Qalam menuliskan segala takdir yang akan terjadi hingga hari kiamat.
7.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari orang yang tidak beriman kepada takdir.
8.Kebiasaan generasi terdahulu (salaf) dalam menepis keraguan,yaitu dengan cara bertanya kepada para ulama.
9.Selanjutnya para ulama memberikan jawaban yang dapat menyingkap keraguan tersebut,dikarenakan mereka menisbatkan jawaban tersebut hanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ummu ‘Afifah,Senin pagi ,26 Robi’ul Akhir 1436 h / 16 Februari 2015

Dinukil dari Syarah Kitab Tauhid .Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi rahimahullah,Penerbit Pustaka Darul Ilmi,Bogor

Sungguh beruntung,orang-orang kafir yang masuk Islam.Mereka benar-benar mendapat Kasih Sayangnya Allah Yang Maha Luas.Bagaimana tidak? Orang-orang kafir yang masuk Islam,seluruh dosa dan kesalahannya dihapus oleh Allah Ta’ala.Sedangkan semua kebaikannya yang berhubungan dengan manusia yang ia kerjakan di masa kafirnya akan di beri pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini tertuang dalam sabda Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wasallam berikut:

عَنْ عَمْرِ وبْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صلى اللّه عليه وسلم قَالَ اَلإِسْلَامُ يَجُبُّ مَاقَبْلَهُ

“Dari Amr bin ‘Ash,bahwasanya Nabi shalallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,”Agama Islam itu menghilangkan (menghapuskan/menutup/menghapus) dosa-dosa sebelumnya.”[HSR.Ahmad]

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللّٰهِ صلى اللّٰه عليه وسلم يَقُوْلُ إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ يُكَفِّرُ اللّٰهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّىَٔةِكَانَ زَلَفَهَا وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَاإِلَى سَبْعِمِاىَٔةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّىَٔةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَاللّٰهُ عَنْهَا

“Dari Abu Sa’id Al Khudriyyi,bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wasallam bersabda,”Apabila seorang hamba masuk Islam,kemudian Islamnya menjadi baik,niscaya Allah menghapus segala kejahatannya.Sesudah itu setiap kebaikan di balas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali (lipat).Sedangkan kejahatannya dibalas hanya setimpal dengan kejahatan (yang dikerjakannya)itu.Kecuali pula kalau Allah (berkenan)memaafkan (kejahatannya)itu.”[HSR.Bukhari secara mu’allaq].

Berkata Hakim bin Hizam:

أَنَّهُ قَالَ لِرَسُوْلِ اللّٰهُ صلى اللّٰه عَلَيْهِ و سلم أَرَايْتَ أُمُوْرًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ هَلْ لِيْ فِيْهَا مِنْ شَيْ ٍٕ فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم أَسْلَمْتَ عَلَى مَا أَسْلَفْتَ مِنْ خَيْرٍ

“Sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,”Bagaimana pendapatmu tentang beberapa kebaikan ang pernah kulakukan pada masa jahiliyyah,apakah aku masih mendapat kebaikaan-kebaikan yang aku lakukan pada masa jahiliyyah?”Lalu Rasulullah shaallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Engkau masuk Isalam dengan membawa kebaikan yang telah engkau lakukan dahulu.” [HSR.Muslim]

Semoga bermanfaat

Ummu ‘Afifah,Bandung,14 Robi’ul Akhir 1436 H / 4 Februari 2015 M