Meniti Jalan Di Atas Bimbingan Salaful Ummah

Posts tagged ‘Bersih Jiwa’

Mengumbar Pandangan Bagai Menoreh Luka di Atas Luka

perhiasan lelaki

Ada sebuah pepatah, “Dari mata turun ke hati” .Mata yang tidak terjaga dari kemilau harta dunia akan menanam racun-racun ke dalam hatinya yang akan membuat hati menjadi sekarat.Sehingga membuat pemilik hati tersebut rela melakukan apapun demi harta.Demikian juga mata yang tidak terjaga dari lawan jenis yang tidak halal untuk dilihat,menjadi awal perkembangbiakan virus-virus parasit dalam hati yang akan mengeroposkan keimanan, menumbuhkan kesyirikan.
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam bukunya Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ menulis bait-bait syair tentang bahayanya mengumbar pandangan:

“Wahai orang yang sungguh-sungguh melempar panah pandangan, engkau adalah korban terbunuh dari apa yang kau lemparkan, meski tidak mengenai sasaran.

Wahai pengutus pandangan yang sedang mencari kesembuhan baginya, tahanlah utusanmu agar tidak datang membawa kebinasaan.”

Pandangan itu melukai hati dengan luka yang mendalam, lalu diikuti dengan luka diatas luka,tetapi luka itu tidak membuat pelakunya jera sehingga dia tetap mengulang-ulang kembali perbuatan tersebut.

Dalam syairnya beliau menulis mengenai hal ini:

Engkau selalu mengikuti pandangan, terhadap segala sesuatu yang elok menawan

Engkau menyangka hal itu adalah penyangkal luka yang kau derita, namun kenyataannya justru menambah luka di atas luka.

Maka kau sembelih matamu dengan pandangan dan tangisan, sedangkan hatimu kau jadikan sembelihan yang sebenarnya.”

Pandangan merupakan pemandu dan utusan syahwat. Menjaga pandangan merupakan pondasi dari memelihara kemaluan. Barang siapa yang mengumbar pandangannya berarti dia telah menggiring dirinya ke tempat-tempat kebinasaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ ))

“Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.”
(HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)

Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membonceng Al-Fadl lalu datang seorang wanita dari Khots’am. Al-Fadl memandang kepada wanita tersebut –dalam riwayat yang lain, kecantikan wanita itu menjadikan Al-Fadl kagum- dan wanita itu juga memandang kepada Al-Fadl, maka Nabipun memalingkan wajah Al-Fadl kearah lain (sehingga tidak memandang wanita tersebut)…”
[HR Al-Bukhari no 1513 (Kitabul Hajj) dan no 1854 (Kitab Jaza As-Soid) dan Muslim no 407 (Kitabul Hajj)]

Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya (1/211) disebutkan bahwa Al-Fadl menyifati wanita tersebut adalah wanita cantik, dan Al-Fadlpun memandangnya, lalu Nabi mengetahui bahwa Al-Fadl sedang memandang sang wanita maka Nabipun memalingkan wajah Al-Fadl. Kemudian Al-Fadl mengulangi pandangannya lagi namun Nabi memalingkan wajahnya kembali hingga tiga kali.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajah Al-Fadl sehingga tidak lagi memandang wajah wanita tersebut, jelaslah hal ini menunjukan bahwa memandang wajah seorang wanita (yang bukan mahram) hukumnya haram.[Adhwaa’ul Bayan, tafsir surat An-Nuur :31]

Abu Umamah berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.”

[HR.Ath-Thabrani no:8018 dan Ibnu ‘Adi (Al-Kamil 6/2048) dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani (Ash-Shahihah no:1525) karena ada syahidnya dari hadits Ubadah bin Shamit].

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظْرُ

Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan”[HR Al-Bukhari no 6343 (Kitabul Isti’dzan), Muslim no 20,21 (kitabul Qadar), dan lafal hadits ini pada riwayat Ahmad dalam Musnadnya 2/343]

Penamaan zina pada pandangan mata terhadap hal-hal yang haram merupkan dalil yang sangat jelas atas haramnya hal tersebut dan merupakan peringatan keras (akan bahayanya), dan hadits-hadits yang semakna hal ini sangat banyak.[Adhwaa’ul bayan, tafsir An-Nuur 31]

Pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia.Sebab, pandangan akan menimbulkan lintasan, kemudian menimbulkan pikiran, lalu melahirkan syahwat, lantas melahirkan keinginan, sampai akhirnya semakin menguat dan menjadi kebulatan tekad, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti. Selama tidak ada yang menghalanginya. Dalam hal ini ada yang berkata:”Kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan dibanding kesabaran dalam menanggung beban sakit setelahnya.”

Di antara bencana yang ditimbulkan pandangan adalah mewariskan penyesalan, menghadirkan malapetaka, dan membakar nafsu. Tatkala seorang hamba melihat suatu perkara yang tidak mampu diraihnya, juga tidak mampu bersabar atasnya, sesungguhnya hal ini merupakan salah satu bentuk siksaan yang paling pedih. Yaitu (Penderitaan yang menerpa) manakala engkau melihat perkara yang engkau tidak mampu bersabar atas perkara tersebut, tidak juga atas sebagiannya, bahkan engkau tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk meraihnya.

Sungguh indah kalimat yang ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja dalam akun Facebooknya:

“Perhiasan lelaki shalih bukanlah penampilannya atau tulisannya atau orasinya, akan tetapi tatkala ia menundukkan pandangannya dari melihat yang haram.”

Sumber rujukan:

Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah,Penerbit Pustaka Imam syafi’i

Situs Muslim.Or.Id

Akun FB Ustadz Firanda Andirja,MA

Diketik saat rintik-rintik hujan membasahi kota Bandung

Ummu ‘Afifah,Kamis,20 Muharram 1436 H

Iklan
Gambar

Jangan Biarkan Amal Ternoda

Jangan Biarkan Amal Ternoda

Niat merupakan barometer untuk menilai sah tidaknya suatu amalan.Bila niatnya baik,maka amalnya baik dan bila rusak, maka rusak pula amalnya.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).
Dari Sulaiman bin Yassir,di berkata,”Orang-orang berpencar dari hadapan Abu Hurairah,setelah itu Natil,seorang penduduk Syam,berkata.’Wahai Syaikh ceritakanlah kepada kami hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam’dia menjawab ,’Ya,saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

”Sesungguhnya manusia pertama kali dihisab pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas,lantas Dia bertanya:’Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?’dia menjawab:’Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allahsehingga mati syahid.’
Allah berfirman:’Dusta kamu,sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku,melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani.Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’Kemudian diperintahkan kepadanya supaya ditelungkupkan mukanya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas,Allah bertanya:’Apa yang telah kamu perbuat?’dia menjawab:’Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya,saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’

Allah berfirman:’Kamu dusta,akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkan serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca,dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.Kemudian dikatakan kepadanya supaya di ditelungkupkan mukanya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.Dan seorang laki-laki yang diberi keluasaan rizki oleh Allah,kemudan dia menginfakkan hartanya semua,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.Allah berfirman:’Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’dia menjawab.”Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai.”

Allah berfirman:’Dusta kamu,akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan,dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia ditelungkupkan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”[HR.Muslim no.1905,An Nasa’i no. 3137,Ahmad no.8277]

Dalam Musnad Ahmad 22523:

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.”Mereka bertanya:’Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Riya’,Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka:’Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?” [HR.Ahmad 23630]

Ketahuilah bahwa keikhlasan adakalanya terjangkit penyakit ‘ujub (bangga diri).Barang siapa yang dibuat kagum dengan amalnya,maka amalnya batal.Demikian pula orang yang sombong maka amalnya batal.

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,

”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik.Sedangkan ikhlas adalah bila Allah menyelamatkan anda dari keduanya.”

Artinya,siapa yang berniat ibadah tapi meninggalkannya karena khawatir dilihat manusia maka ia berbuat riya’,karena ia meninggalkan amalan karena manusia.Adapun seandainya ia meninggalkan shalat untuk dikerjakannya dalam sepi,maka ia dianjurkan,kecuali bila shalat tersebut shalat fardhu,zakat wajib,atau ia seorang alim yang diikuti,maka beribadah secara terang-terangan dalam hal itu adalah lebih utama.

Sebagaimana riya’membatalkan amal,demikian pula mempopulerkannya (tasmi’ atau sum’ah).Yaitu ia beramal dalam sepi kemudian menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah ia kerjakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya),maka Allah akan memperdengarkannya (di Hari Kiamat),dan barangsiapa yang memamerkan (amalnya) maka Allah akan memamerkannya (di Hari Kiamat).”[Muttafaq ‘alaih :al Bukhari 6499,7152 dan Muslim 2987 dari hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu]

Al Khathathabi rahimahullah mengatakan,”Siapa yang melakukan suatu amalan dengan tanpa keikhlasan,tapi ia hanya berkeinginan supaya orang lain melihatnya dan mendengarnya,maka ia diberi balasan dengan hal itu,dengan memasyhurkan atau mempopulerkannya.Sehingga nampak padanya apa yang disembunyikan dan dirahasiakannya dari hal itu.”

Wallahu a’lam

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla membimbing hati kita untuk senantiasa menjaga niat di setiap amalan hanya karena Allah…Aamiin.

Ummu ‘Afifah ,Bandung,19 Rajab 1435 H

Di ambil dari buku :
-Kumpulan Shahih Hadits Qudsi hal. 63 & 67,Penerbit Aslam Media,Jakarta
-Syarah Hadits Arbain An-Nawawi bab Niat,Penerbit Darul Haq,Jakarta