Meniti Jalan Di Atas Bimbingan Salaful Ummah

Posts tagged ‘Nasehat’

Aku Memang Mencintaimu,Tapi…

takut siksaa nerakaa

Teruntuk ukhti muslimah yang memendam rasa kepada pemuda muslim, Namun ternyata engkau lebih dulu dilamar orang lain.Atau pemuda yang kau cintai ternyata sudah melamar wanita lain, renungkanlah kisah berikut.

***

Di Kuffah ada seorang pemuda yang sangat tampan dan rajin beribadah. Ia adalah orang yang zuhud. Pada suatu hari ketika sedang bertamu pada sebuah keluarga, ia melihat seorang gadis anggota keluarga itu yang sangat cantik. Ia pun dibuat terpesona serta mabuk kepayang.

Rupanya perasaan yang sama juga dialami oleh si gadis tersebut. Pemuda itu lalu mengutus seorang kurir untuk melamar sang gadis kepada ayahnya. Sang ayah memberitahu bahwa gadis itu sudah menjadi tunangan saudara sepupunya sendiri.

Inilah yang membuat sepasang muda-mudi itu sama-sama menderita sakit asmara. Si gadis lalu berkirim surat kepada pemuda itu yang diantar oleh seorang kurir.
“Aku sudah mendengar bahwa kamu sangat mencintaiku. Dan aku pun demikian. Jika mau, aku akan mengunjungimu atau aku akan memberimu jalan supaya kita bisa bertemu di rumahku.”

Selesai membaca surat itu, sang pemuda berkata kepada si kurir,

“Kedua-duanya tak akan aku lakukan, katakanlah,

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku’ (Q.S az Zumar: 13)

Aku takut akan api neraka yang panasnya tidak akan pernah reda, dan nyalanya tidak akan pernah padam.”

Setelah mendengar jawaban pemuda yang disampaikan kurirnya itu, si gadis seketika bertaubat.

Dikutip dari :At Tawwabin, hal (132-133) oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi
Ensiklopedi Doa,hal.85, Syaikh Hamid Ahmad Ath Thahir Al-Basyuni;,Penerbit :Darul Falah

Kiriman dari sahabat fillah Ummu Ayyub Ris,semoga Allah selalu menjaga dirimu dimanapun engkau berada…Aamiin

Bandung di siang hari,Selasa 25 Muharram 1436 H

Iklan
Gambar

Jangan Biarkan Amal Ternoda

Jangan Biarkan Amal Ternoda

Niat merupakan barometer untuk menilai sah tidaknya suatu amalan.Bila niatnya baik,maka amalnya baik dan bila rusak, maka rusak pula amalnya.

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).
Dari Sulaiman bin Yassir,di berkata,”Orang-orang berpencar dari hadapan Abu Hurairah,setelah itu Natil,seorang penduduk Syam,berkata.’Wahai Syaikh ceritakanlah kepada kami hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam’dia menjawab ,’Ya,saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

”Sesungguhnya manusia pertama kali dihisab pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas,lantas Dia bertanya:’Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?’dia menjawab:’Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allahsehingga mati syahid.’
Allah berfirman:’Dusta kamu,sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku,melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani.Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’Kemudian diperintahkan kepadanya supaya ditelungkupkan mukanya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas,Allah bertanya:’Apa yang telah kamu perbuat?’dia menjawab:’Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya,saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’

Allah berfirman:’Kamu dusta,akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkan serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca,dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.Kemudian dikatakan kepadanya supaya di ditelungkupkan mukanya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.Dan seorang laki-laki yang diberi keluasaan rizki oleh Allah,kemudan dia menginfakkan hartanya semua,lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.Allah berfirman:’Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’dia menjawab.”Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai.”

Allah berfirman:’Dusta kamu,akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan,dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia ditelungkupkan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”[HR.Muslim no.1905,An Nasa’i no. 3137,Ahmad no.8277]

Dalam Musnad Ahmad 22523:

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً

Dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.”Mereka bertanya:’Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Riya’,Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka:’Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?” [HR.Ahmad 23630]

Ketahuilah bahwa keikhlasan adakalanya terjangkit penyakit ‘ujub (bangga diri).Barang siapa yang dibuat kagum dengan amalnya,maka amalnya batal.Demikian pula orang yang sombong maka amalnya batal.

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan,

”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik.Sedangkan ikhlas adalah bila Allah menyelamatkan anda dari keduanya.”

Artinya,siapa yang berniat ibadah tapi meninggalkannya karena khawatir dilihat manusia maka ia berbuat riya’,karena ia meninggalkan amalan karena manusia.Adapun seandainya ia meninggalkan shalat untuk dikerjakannya dalam sepi,maka ia dianjurkan,kecuali bila shalat tersebut shalat fardhu,zakat wajib,atau ia seorang alim yang diikuti,maka beribadah secara terang-terangan dalam hal itu adalah lebih utama.

Sebagaimana riya’membatalkan amal,demikian pula mempopulerkannya (tasmi’ atau sum’ah).Yaitu ia beramal dalam sepi kemudian menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah ia kerjakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ

“Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya),maka Allah akan memperdengarkannya (di Hari Kiamat),dan barangsiapa yang memamerkan (amalnya) maka Allah akan memamerkannya (di Hari Kiamat).”[Muttafaq ‘alaih :al Bukhari 6499,7152 dan Muslim 2987 dari hadits Jundab radhiyallahu ‘anhu]

Al Khathathabi rahimahullah mengatakan,”Siapa yang melakukan suatu amalan dengan tanpa keikhlasan,tapi ia hanya berkeinginan supaya orang lain melihatnya dan mendengarnya,maka ia diberi balasan dengan hal itu,dengan memasyhurkan atau mempopulerkannya.Sehingga nampak padanya apa yang disembunyikan dan dirahasiakannya dari hal itu.”

Wallahu a’lam

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla membimbing hati kita untuk senantiasa menjaga niat di setiap amalan hanya karena Allah…Aamiin.

Ummu ‘Afifah ,Bandung,19 Rajab 1435 H

Di ambil dari buku :
-Kumpulan Shahih Hadits Qudsi hal. 63 & 67,Penerbit Aslam Media,Jakarta
-Syarah Hadits Arbain An-Nawawi bab Niat,Penerbit Darul Haq,Jakarta